Feed on
Posts
comments

Sedang menunggu waktu imsak. Alhamdulillah hari ini masih diberi kesempatan untuk sahur dan berpuasa di esok pagi…

Hari ini sudah hampir memasuki jadwal deadline dari studio tugas akhirku. Berbeda dengan jurusan kuliah lainnya, kami di arsitek mengerjakan tugas akhir kami dalam 2 periode. Periode 2 bulan pertama dimulai dengan penulisan skripsi, dan dilanjutkan dengan 2 bulan kedua untuk studio TGA, dimana kami mulai mengaplikasikan semua yang kami dapatkan pada penulisan untuk ditransformasikan dalam wujud desain. Dan untuk kasusku kali ini, sebenarnya tidak terlalu sulit dan rumit. Namun mungkin menjadi berat,karena tuntutan pribadiku sendiri pada tugas akhir ini. Jujur awalnya saya melakukan proses tugas akhir ini hanya sebagai syarat kelulusan. Bagiku IPK 3,47 sudah sangat baik, toh mau dikejar cumlaude juga sudah tidak mungkin lagi. Yang kubutuhkan hanya segera lulus dan bisa lebih berkonsentrasi pada profesi dan hal lainnya.

Namun waktu berjalan, lama kelamaan saya berpikir, bahwa alangkah baiknya saya konsentrasi penuh dan fokus pada studio ini. Ini mungkin menjadi tugas terakhir saya sebagai mahasiswa, dokumentasi terakhir dari apa yang selama ini telah saya dapatkan di bangku kuliah. Jadilah saya mulai menuntut kualitas desain yang mumpuni pada studio ini. Dan yang menjadikannya berat adalah saya baru menyadarinya setelah masuk paruh kedua periode studio ini. Aghhhh, ya Allah semoga saya bisa menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya. Amin

Tiga hari lagi,tepat tanggal 10 sepetember 2008,hari rabu, deadline pengumpulan gambar sudah dijadwalkan dihari tersebut. Saya baru ngeplot 13 lembar, masih kurang 6-7 lembar dari target yang saya harapkan. Sebenarnya saya tidak terlalu target jumlah lembar, namun kelengkapan gambar yang harusnya sangat saya fokuskan. Semoga saya bisa kejar semuanya…

Terima kasih untuk Inge, kekasih hati yang selalu menyemangatiku. Mungkin kecil perbuatan itu baginya, tetapi besar maknanya untukku…

Bersyukur sekali masih diberi kekasih hati seperti dia….

Entah dorongan darimana, lalu membuka blog catatan harian ini, dan melihat posting terakhir di tanggal 20 Februari 2008, sudah hampir dua bulan ternyata saya menelantarkan blog ini. Ada sedikit ketakutan blog ini bisa menimbulkan pro-kontra akibat cerita-cerita saya. Saya bahkan pernah berpikir untuk menghapus saja blog ini. Tapi entahlah, banyak pertimbangan yang juga harus say cermati dalam mengambil langkah bukan.

Sejujurnya saya tidak punya ide mau menulis apa kali ini. Bukan berarti tidak ada cerita-cerita yang menarik bagi saya untuk diceritakan. Apalagi yang berhubungan dengan pujaan hatiku. Sedikit demi sedikit saya makin mengenal dirinya, dia pun begitu ke saya. Ada hal yang dia sukai dari saya, namun ada juga yang tidak. Begitupun saya kepada dia. Dia kurang suka kebiasaan makan saya yang suka mengeluarkan suara seperti mengecap. Sejujurnya, saya pun tidak pernah menyadarinya. Dan untuk saya, jika hal itu juga buruk untuk saya, kenapa saya harus ragu untuk mengubah kebiasaan saya itu.

Mencintai itu bisa menerima apa adanya??? dulu saya percaya sekali dengan statement tersebut, tapi saya mulai berpikir hal tersebut sedikit naif, bahkan bisa terdengar bodoh. Sebagai contoh jika pasangan kita suka nge-drugs. Dan karena kita sangat cinta kepadanya, kita menerima dia apa adanya, dan membiarkan dia mati dan hancur perlahan karena drugs. Apa bisa kita dikatakan sayang dengan orang tersebut??? Cinta itu harusnya indah, rasa sayang itu seharunya menghidupkan. Besarnya rasa sayang dapat dilihat dari kepedulian terhadap pasangan, perhatian akan tiap detail yang terjadi pada pasangan kita. Saya jadi ingat, Inge sering mengingatkan saya untuk segera mencari bahan, menghadap dosen, agar tugas akhir bisa cepat selesai. Bahkan tidak jarang dia ngambek karena terkadang saya terkesan acuh tak acuh. Namun sebenarnya saya senang dan ikut terdorong untuk segera menyelesaikan tugas akhir saya. Setidaknya saya punya alasan yang kuat utk segera menyelesaikanya. Dan semoga saya tidak gagal lagi kali ini.

Alhamdulillah, kemarin pak Imam mengajukan permohonan saya untuk mengulang penulisan say lagi. Saya terharu beliau masih yakin dengan kemampuan saya, walau saya sendiri tidak yakin. Tanggung jawab dan keinginan menjawab kepercayaan yang diberikan oleh pak Imam mencadi semangat baru untuk benar-benar konsentrasi dan menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya.

Terima kasih ya Allah atas nikmat-Mu, dan orang-orang yang saya sayangi, mama, papa, oci, dan yg plg special  "the one" ingequ. i love u.

Rabu pagi kali ini sedikit bingung dengan harus seperti apa dan mengapa. Semalam saya dan Inge banyak mengobrol. Kita telpon-telponan sangat lama. Total 4 jam, sebuah rekor yang saya sendiri belum pernah mencapainya. Atau kah ini akan masuk dalam catatan rekor dunia? Kalau melihat Hadut, teman kosku, sama saja dia pernah 3 jam menelpon kekasihnya di Jakarta. Saya berterima kasih kepada operator kami esia atas bantuannya selama ini. Senang saja, rasanya keputusan untuk membeli sebuah Hp cdma lagi ada gunanya. Ya terang saja dengan 2 buah Hp saja saya sudah repot dibuatnya harus membawa kemana-mana. Saya memimpikan semua operator memiliki tarif yang sama. Tidak harus sesama operator, tarif telpon pun sama baiknya untuk pelanggan. Tapi membiarkan pasar bergerak seperti ini juga tidak masalah, setidaknya mengurangi dominasi dari sebuah operator saja, dan mencegah terjadinya praktik monopoli.

Kami banyak bercerita juga tentang masa kecil kami, Inge bercerita tentang dia saat nakal-nakalnya ketika berumur 3 tahun. Lalu dilanjutkan tentang guru Matematikanya ketika SD yang begitu killer,dan beberapa cerita lainnya yang membuat saya tertawa. Dan sebaliknya dia pun mentertawakan semua cerita-cerita konyol tentang saya. Bahkan ternyata kami sama-sama telat untuk bisa mengaji. Senang sekali rasanya, saya sering berkata dengan teman-teman, "pekerjaan paling menyenangkan itu adalah mentertawakan diri sendiri."

Saya juga banyak bercerita tentang kegundahan saya akhir-akhir ini, tentang pekerjaan yang menumpuk dan rasanya terkadang saya merasa tidak sanggup mengerjakan semuanya, tapi segan juga untuk menolak pekerjaan-pekerjaan ini. Saya juga agak was-was dengan progress tugas akhir saya yang sangat terhambat karena pekerjaan-pekerjaan tadi, saya berpikir untuk off dari pekerjaan ini hingga selesai tugas akhir. Senang bisa punya tempat untuk bercerita, dan selama ini Inge cukup banyak memberi feed back yang positif untuk saya. Saya pun berharap saya bisa begitu untuk dirinya. Yang terpenting kita bisa saling mendukung satu sama lain untuk perkembangan diri masing-masing. Kalaupun ada masalah yang terjadi kita harus bersama-sama mencari solusinya. Sudah lama tidak menggunakan kata "kita". Senang sekaligus cemas, jika harus kehilangan kata "kita" ini lagi. Tapi sudahlah, toh hidup sudah ada yang mengatur jalan dan lintasanya. Cemas itu wajar, tapi bila jadi penghalang untuk bersikap baik ini sudah menjadi sebuah hal yang buruk.

Saya sangat merindukannya, saya ingin sekali mengunjunginya dikota metropolitan itu. Tapi bagi saya jakarta bukan kota impian, bukan lingkungan idaman. Semoga planning saya minggu depan untuk mengunjunginya bisa benar-benar terealisasi. Sungguh saya sangat ingin melihat senyumnya itu lagi.

Sudah hampir seminggu tidak menulis catatan harian ini. Mungkin karena sekarang lebih banyak bercerita dengan Inge, jadi rasanya mulai malas menulis. Senang rasanya punya tempat bercerita. Walau masih butuh waktu transisi dimana kemarin sudah mulai enjoy dengan kesendirian ini. Seminggu ini saya sering dibuat senyum-senyum sendiri oleh cerita-cerita Inge. Inge Tunjungsari, nama yang sudah lama sekali hadir dalam kehidupanku. Dan kini kembali lagi, namun dengan jalan cerita yang berbeda. Tapi sedikit disayangkan, saya masih menyisakan trauma tentang hubungan terakhir kemarin. Jujur saya agak takut sebenarnya memulai sebuah hubungan yang baru. karena Sedikit banyak meninggalkan luka tapi saya coba berpikir positif dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk ke depannya. Semoga Inge bisa mengerti. Saya tidak tahu apakah Allah akan menjadi kan dia yang terakhir untuk saya, tapi yang terpenting adalah saya berusaha dan berdoa agar dia bisa menjadi yang terakhir. Perkara hasil, sejak kecil saya belajar untuk tidak terlalu berharap dengan apa yang namanya "hasil".

Kemarin saya menonton di televisi banyak sekali terjadi penggusuran pasar-pasar dan rumah-rumah warga di jakarta. Sedih melihatnya, tapi juga dilema. Disatu sisi, atas alasan kenyamanan dan ketertiban, saya merasa, area-area itu memang harus ditertibkan. Apalagi jika memang alasannya untuk area hijau di jakarta. Karena kota itu memang sangat membutuhkan area hijau tersebut. Tetapi atas alasan kemanusiaan, saya juga mendukung para korban penggusuran tersebut. Semoga pemerintah bisa memberikan jalan keluar yang menguntungkan semua pihak, win win solution. Saya cuma miris melihat nasib rakyat-rakyat kecil yang sering kali diinjak-injak. Saya lahir dari keluarga yang sederhana, sedikit banyak saya tau rasanya hidup susah.

Melihat nasib korban lapindo juga semakin miris. Semoga mereka semua diberi ketabahan dan kesabaran oleh Allah. Amin.

Hari minggu ini dari pagi saya hanya bersantai-santai saja diselingi maen Play station. Sekarang sudah jam 2 siang. sangat tidak produktif. Hujan turun sedikit deras, cuaca sejuk sekali, tenang. Sungguh nyaman untuk beristirahat.

Sudah hari senin lagi, sudah waktunya beraktifitas lagi. Kemarin minggu sudah dipenuhi dengan hiburan. Diawali lari pagi dan main sepak bola di Graha Shaba bersama Hadut, Bodat dan Anggit. Dan dilanjutkan dengan main game dotA dan menonton vcd filem Harry Potter. Cukup senang, tetapi sebenarnya akan lebih seru jika jalan-jalan. Tidak tahu mengapa, kemarin saya sempat berangan-angan ingin jalan-jalan keliling dunia, ke tempat-tempat yang jauh, yang baru dan tidak bisa saya duga akan seperti apa. Saya mulai sedikit bosan dalam keseharian yang seperti ini. Butuh warna baru, dan tantangan baru. Mungkin nanti, saya pendam dulu hingga saya berhasil menyelesaikan kuliah saya.

Jakarta akhir-akhir ini banjir parah. Saya pikir jika banjir ini selalu menjdai semacam tradisi, akan menghasilkan masyarakat yang juga punya budaya penanggulangan banjir. Seharusnya logikanya seperti itu. Kita lihat saja, pasti akan lahir terobosan baru dalam masyarakat ini nantinya.

Semalam pak Agung sms saya, dia bilang sore ini mau ketemu saya, dia bilang mau membatalkan kolam di depan kamar anak rumahnya , sedikit disesalkan. Sekarang saya bingung mau dibik apa kolam itu. Semoga siang ini saya mendapat ide baru.

Pikiran saya pagi ini sedikit tak menentu, ada gejolak hati tentang sedikit problema dengan yang namanya cinta. Sudahlah saya sudah tak mau lagi ambil pusing tentang ini. Bukan saya apatis, tapi biar saya serahkan semua pada Allah semata. Semoga semuanya berakhir dengan baik.

Alhamdullillah akhirnya tadi selesai juga proses pendaftaran tugas akhir. Tinggal menunggu pengumuman kapan bisa dimulai penulisan dan asistensi dengan dosen pembimbing TGA ku, pak Imam Djokomono. Salah satu dosen yang saya kagumi karena ke gilaan dan kepintarannya dalam berpikir. Saya selalu merasa terpukau saat dia mengeluarkan statement-statement yg benar-benar sulit dicerna. Bahakn dalam diskusi saat kuliah pun, saya pernah presentasi karya saya, selalu dia menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sulit ditebak. saya tidak pernah mengira dia akan mengeluarkan pertanyaan A atau B. Sungguh seorang intelektual sejati. Untuk masalah kesendiriannya selama ini saya pikir itu pilihan hidup beliau, dan saya tidak merasa risih atau mengurangi penghormatan saya kepada beliau.

Semalam saya nonton film "Rambo 4" di bioskop 21. Seru, full action, tapi sedikit kecewa durasinya saya rasa hanya sebentar. Tidak seperti film Rambo-Rambo sebelumnya. agak disesalkan juga. Tapi saya cukup puas. yang saya sedih mengenai penggambaran tragedi di BIrma, pembantaian pada masa perang saudara yang sangat begitu mengenaskan. Mayat dimana-mana, membusuk, pemerkosaan, pembunuhan keji, sungguh saya merasakan hidup tiada guna di lingkungan neraka seperti itu. Sebuah statement yang diucapakan John Rambo yang saya suka.
"Life for nothing or die for something."
Pesismis tapi dalam sekali maknanya.

Semalam saya menelpon adik saya, Ochi. Dia bercerita panjang lebar tentang pacar barunya, namanya Umar. Seru sekali mendengar ceritanya, saya bingung sekali Ochi sudah berpuluh kali ganti pacar, sampai dia lupa orang-orangnya, tapi dia selalu mencari sosok pacar ideal yang punya sifat seperti saya. dan dia bilang Umar ini mirip sekali dengan saya. Ya mungkin dia punya alasan dan pertimbangan sendiri. Ternyata si Umar juga suka bermain game Dot-A seperti saya, kapan-kapan saya mau ajak battle dia.

Hari ini cukup lelah, dari pagi menyiapakan proposal tugas akhir lalu bertemu Shin, teman asal Korea, berbicara sedikit banyak tentang proyek di rumah casa Grande, dan terakhir ke proyek Pak Agung, bertemu Pak Agung diskusi mengenai lampu. Malam ini agak dingin, hujan, jadi terpikir Inge, tadi dia bilang jalan pulang ke kos macet. Saya lihat di detik.com memang Jakarta sedang banjir. Mungkin sebentar lagi saya telpon, saya sedikit khawatir keadaanya. Semoga dia bisa sampai rumah dengan lancar.

Hari kelima diare, sudah lumayan berkurang, sudah lebih baik, dan mulai sedikit timbul harapan akan yang namanya kesembuhan. Suatu kata yang mahal bagiku hari-hari ini. Harapan memang terkadang bisa menjadi sebuah jawaban akan kesulitan yang menghadang. Sungguh malang nasib manusia yang tidak punya harapan. Seperti yang kurasakan akhir-akhir ini. Hingga disuatu titik saya bertanya pada diriku sendiri, "Untuk apa saya dilahirkan??" Jika bukan karena keluarga, kewajiban di kantor, serta aktifitas di kampus, dan ramainya keceriaan teman-teman, saya mungkin menjadi orang yang malang tadi. Saya bersyukur kepada Allah atas semua karunia-Nya. Untuk perihal diare ini, Aa’ Gym dalam ceramahnya pernah menyampaikan bahwa jika tertimpa sakit bagi seorang muslim dan tetap bersabar, akan menjadi penghapus dosa. Kalau teman saya bilang, "Berarti lu banyak dosanya jo…makanya sakit mulu…" Saya tertawa, tapi mungkin memang ada benarnya.

Semalam saya bermimpi, saya datang terlamabt pada sebuah shalat Jumat. Saya tidak mengerti apa maksudnya, yang saya ingat, saya melakukan shalat disebuah SD di dekat rumah saya yang lama di perumahan Permata Biru, Lampung. SDN 6 Sukarame namanya. Saya ingat masa-masa SD hingga SMP saya banyak menghabiskan waktu sore saya bermain bola di halamanya yang cukup luas. Kenangan masa kecil sungguh indah. saya merindukan masa-masa itu, tiap sore mengejar bola. Banyak orang dekat saya yang sering bertanya, "sebegitu pentingkah arti sepak bola untukmu?" kalau saya boleh berkata, Iya, sepak bola bisa menajdi begitu penting bagi saya. Karena hanya saat bermain sepakbola lah saya bisa terlepas dari semua beban, stress, dan pikiran-pikiran akan beratnya hidup yang saya jalani, akan masalah-masalah yang sedang menimpa. SDepak bola menjadi sebuah pelampiasan kegundahan saya sedari kecil. Karena masa kecil saya juga sudah terlalu banyak masalah.

Akhir-akhir ini saya merasa kehilangan motivasi, dan semangat bertempur. Bagai prajurit perang yang sudah mencapai kemerdekaanya. Hingga tidak tahu lagi mau apa karena tidak ada penjajah yang dilawan lagi. Saya butuh impian yang lebih besar, saya butuh pemikiran yang lebih gila. Yang bisa menimbulkan semangat juang ini lagi. Setidaknya saya punya arah punya tujuan dalam menjalani kehidupan saya ke depannya.

Semalam saya menonton sebuah film di televisi. Film hollywood, tentang beberapa geng motor dalam berebut area kekuasaan. Saya tidak tertarik dengan pergulatanya. Saya tertarik dengan berbagai jenis-jenis motornya. Saya masih tetap memimpikan memiliki motor sport seperti itu. Mungkin suatu hari nanti. Disaat semuanya tepat waktunya.

Hari ini hari keempat saya menjalani hari penyiksaan. Sejak hari minggu saya kena diare, cukup parah, saya sampai frustasi dengan keadaan ini. Tidak jarang saya drop dan hampir pingsan karena lemas kekurangan cairan. Saya sedikit kesal sudah dua kali saya sakit di bulan ini. Saya tidak senang keadaan ini. Yang lebih menyiksa lagi ahri ini saya harus ke kampus untuk mengurus pendftaran tugas akhir dan ke proyek rumah pak agung, untuk berdiskusi dengan mas giyanto mengenai bebrapa detail bangunan. Saya lelah. Bahkan disaat saya ingin sedikit beristirahata saya tidak punya waktu untuk itu. Tapi sedikit terhibur pembangunan rumah pak agung sudah menunjukan hasil, semoga baik hasilnya. Amin.

Kemarin saya membaca di sebuah artikel di internet, disebutkan bahwa stress merupakan penyebab menurunyaumur manusia dan menjadi 2/3 penyebab penyakit pada manusia.

Kemarin malam saya terkejut disaat tidur, jam setengah satu malam, tiba-tiba Indri menelpon saya. Sebelum saya angkat, saya sedikit bingung kenapa dia menelpon larut malam begini, sedikit khawatir juga. Lalu dalam telponnya, Indri menangis, dia banyak bercerita tentang keadaanya di Medan saat ini. saya sebenarnya sedikit bingung menafsirkan ceritanya, tapi kalau boleh saya simpulkan. Dia merasa semua keadaan disana tidak seperti yang dia harapkan. Saya cukup mengerti bagaimana rasanya. bagi kami anak rantau yang bersekolah jauh dari rumah, dan hanya bisa pulang setahun sekali atau setahun dua kali, banyak sekali kerinduan dan harapan-harapan akan keadaan yang baik saat pulang ke rumah. Bercengkrama dengan keluarga, teman-teman dekat, atau mungkin seperti Indri juga bercengkrama dengan kekasih hatinya. Namun seperti halnya dunia yang tidak pernah sesempurna dan seideal itu, harapan pun bisa menjadi sebuah bumerang yang begitu memilukan. Dan saya adalah termasuk manusia yang selalu mengurangi harapan terhadap orang lain. kalau Aa’ Gym dalam ceramahnya mengatakan, "Jangan pernah berharap kepada yang namanya mahluk, nati kecewa…"

Tadi siang saya ke kampus bertemu dengan Hari, Made, dan Ian. Mereka bertiga mau daftar penulisan tugas akhir juga. Senang masih ada teman angkatan yang senasib seperjuangan. Yang lucu saya melihat bagaimana kesenanagn made dan Hari begitu mendapat kabar nilai mekanika mereka dapat C dan B. Khusus Made, wajar jika dia senang sekali, karena sudah 3 kali dia mengulang dan selalau diberi pak Hotma nilai E. Selamat buat mereka berdua. Untuk Pak Hotma, mungkin ini penyebab dia banyak tidak disukai mahasiswa. Dia sangat galak terhadap nilai. Tapi sebenarnya dia dosen yang baik, ramah, senang bercanda. saya senang menghadiri kuliahnya.

Menyadari akan segera dimulainya proses tugas akhir, membuatku semakin merasa mulai kehilangan suasana kampus ku ini. Jurusan Arsitektur UGM. Penuh cerita penuh kenangan bagiku. Tak terasa sudah 4,5 tahun aku kuliah dan menghabiskan hari-hariku disini. Dan kenangan bersama teman-teamn di kampus akan menajdi sebuah hal yang mengasyikan bagiku.

Tidak ada yang abadi…
semua datang dan pergi…

Malam ini saya baru saja mengirimkan gambar desain ke klien baru kami di kantor. Namanya bu Nita. Dia ingin membuat sebuah vila di jalan Kaliurang Yogyakarta. Semoga saja beliau setuju dengan desain kami dan melanjutkan kerjasama ini. Seharian dari pagi lembur akhirnya selesai juga. Lelah, peras otak dan tenaga, deadline memburu bagai peluru serdadu. Namun terkadang memang hidup seperti ini yang kupilih.

Baru tadi aku lihat transkrip nilai ku. Alhamdullilah IPK sudah mencapai 3,45 semua kuliah telah selesai hanya tugas akhir(skripsi) saja yang tersisa. Tadinya saya punya impian bisa kumlaude tapi ternyata Allah masih brkehendak lain, saya sudah hitung, bila skripsi ini dapat A, hanya mentok diangka 3,48. Sedikt lagi. Tapi sudahlah, bukankah impian memang tidak selalu harus tercapai semua. Setidaknya saya berharap, saya bisa mempertanggungjawabkan semuanya dikemudian hari. Walau jujur saya sangat memimpikannya sebagai kado untuk Mama.

Jadi ingat masa kecil dan sekolah. Mungkin kalo teman-teman ada yang bertanya kenapa aku begitu fokus dengan sekolahku dan prestasi akademik itu. Semuanya karena mama. Saya begitu ingin membuat mama bahagia dengan semua prestasi itu. Dan semoga saya sudah memberikannya. Karena mungkin mama yang selalu menjadi alasan say hidup dan menjalani hidup ini sebaik mungkin. Saya sangat bersyukur karena adanya mama. Semoga Allah selalu memberi limpahan rahmat-Nya kepada Mama.

Malam ini saya bisa sedikit lepas dari jeratan kerja. Mungkin sudah waktunya bersantai ria. Bermain play-station ditemani segelas Milo dan berger mungkin bisa jadi pilihan menarik.

Sudah hampir satu minggu aku libur menulis. Bukan tidak ada yang ingin kutulis, tapi tidak ada waktu untuk menulis. Ini pun mencuri waktu hanya untuk sekedar menambah selembar lagi catatan harian ini.

Hari-hari belakangan saya merasa sedikit gelisah, akan hidup yang saya jalani ini. Kadang merasa seperti mesin,tidak pernah habis kerja dan kerja. Bahkan saya pun sekarang ahrus juga menyiapkan diri dan materi untuk tugas akhir (skripsi) saya. Kadang merasa diri butuh sedikit waktu jeda, bila dizinkan. Kadang saya bertanya, untuk apa semua kerja keras ini. Sungguh tragis bila tidak ada alasannya. Sedikit bingung mencari jawabanya. Semua tampak samar didepan mata.

Ada sebagian orang yang menilai saya melakukan semua demi uang. Sungguh uang bukanlah segalanya dalam hidup ini, walau tidka saya pugkiri, kita butuh uang itu. Saya sering merasa geli melihat teman-teman yang menilai saya sukses, sebuah pertanyaan besar. Bahkan mereka sendiri tidak tahu apa yang saya dapat apa yang saya kerjakan. Sungguh masih jauh sekali perjalanan ini demi kata "sukses" itu. Atau mungkin definisi "sukses" itu yang berbeda dalam diri say. Kejayaan, popularitas, kekayaan bukan sebuah patokan sukses bagi saya. Bahkan ketiga hal diatas bisa menjadi bumerang, depresi yang sangat menjerat. Sukses bagi saya adalah kebahagiaan dan senyuman keluarga saya. Hanya itu mungkin definisi sukses bagi saya. 

Kemarin tetangga saya, teman main saya, yang sudah seperti adik saya sendiri, Eka, meninggal dalam kecelakaan motor. Dia masih muda, baru kelas 3 SMA. Tragis??? tidak,sungguh saya pun ingin mati muda. Impian saya adalah bisa mati dan dimakamkan oleh seribu orang. Seribu sahabat. Seribu keluarga. Seribu saudara. Seribu kepala yang tidak menangis namun tersenyum. Tersenyum bahagia mengantarkan saya dalam pencapaian impian ini. Impian saya sebelum mati adalah sudah berkarya. seperti sebuah kalimat yang pernah saya buat. "Arsitektur bagi saya bukan sekedar profesi, namun pengabdian, impian dan harapan."

Dunia tidak pernah sesempurna yang diharapkan. saya bukan seorang idealis. Saya hanya seorang realis yang terkadang pesimis karena traumatis.

Older Posts »